Tragedi JAL 123 terjadi 41 tahun lalu. Ketika sebuah pesawat Boeing 747-146 SR rute Tokyo-Osaka jatuh di Gunung Takamagahara dekat Gunma. Tercatat 520 penumpang dan kru jadi korban. Cuma 4 yang selamat. Nah, dibalik tragedi besar itu ternyata ada sosok pahlawan. Siapakah dia?
Pendahuluan
Kebayang nggak sebuah penerbangan rutin berubah jadi malapetaka? Bahkan sebuah catatan sejarah? Nah inilah yang terjadi tepat 41 tahun yang lalu. Ketika sebuah pesawat jumbo jet mengalami kecelakaan fatal di kawasan pegunungan terpencil di Prefecture Gunma.
Tragedi mengenaskan ini memang terjadi di luar negeri. Tapi dampak dari sini turut dirasakan hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena dari sini juga ada perubahan dalam aturan penerbangan. Khususnya yang berkaitan dengan proses perawatan armada pesawat.
Namun layaknya di film, dalam malapetaka ini ada sosok pahlawan. Siapakah sosok pahlawan itu? Apakah dia termasuk korban selamat atau malah sebaliknya? Yuk simak sama-sama pembahasan ini!
Hari Besar di Jepang
Tanggal 12 Agustus 1985, sehari sebelum perayaan Obon, sebuah hari besar di Jepang. Dimana pada hari tersebut merupakan hari libur. Banyak orang bepergian untuk pulang kampung berkumpul sama sanak keluarga, ada yang ziarah, atau sekedar jalan-jalan.
Bisa dibilang ini kaya lebarannya orang Jepang. Nah karena itu semua moda transportasi umum dipenuhi para penumpang yang akan ke luar kota. Nggak terkecuali penerbangan. Di hari itu, Bandara Haneda dipenuhi warga yang mau bepergian itu.
Pesawat Masih Jadi Pilihan
Jepang udah punya Shinkansen sejak 1 Oktober 1964. Meskipun begitu karena satu dan lain hal, pesawat masih jadi pilihan sebagian besar warga untuk bepergian. Bahkan rute Tokyo-Osaka adalah salah satu yang demand nya tinggi.
Saking banyaknya peminat, maskapai penerbangan utama di Jepang yaitu ANA dan JAL sering mengoperasikan Wide Body di rute yang sejatinya kurang lebih satu jam itu.
JAL 123 Gunakan Boeing 747-146 SR
Maskapai nasional yakni Japan Airlines (JAL) gunakan Boeing 747 alias Jumbo Jet buat dinas di rute padat kaya Tokyo-Osaka. Seperti kita tau, pada umumnya pesawat jenis ini dipake buat penerbangan jarak jauh.
Namun di Jepang justru dipake domestik yang nggak sampe sejam kaya rute Tokyo-Osaka.

Gegara demand tinggi itu, Boeing sebagai produsen release varian SR (Shorten Range) khusus buat akomodasi market Jepang. Meski kapasitas sama, tapi jangkauan dibuat lebih pendek dari Boeing 747 normal.
Di hari itu, penerbangan sore ke Osaka dilayani oleh JAL 123 yang pake Boeing 747-146 SR. Ini adalah trip kedua di rute yang sama. Penerbangan ini dijadwalkan take off di jam 6 sore dari Bandara Internasional Haneda.
Kru yang Nggak Kaleng-Kaleng
Penerbangan menuju Bandara Itami di Osaka sore itu diawaki oleh kru yang sejatinya nggak kaleng-kaleng. Pimpinan penerbangan adalah Captain Masami Takahama, seorang pilot berpengalaman dengan 12.400 jam terbang (4.850 diantaranya Boeing 747). Dua kru lainnya juga nggak kalah mentereng.
| No | Nama | Posisi | Pengalaman |
| 1 | Masami Takahama | Captain | 12.400 jam (4.850 di Boeing 747) |
| 2 | Yutaka Sasagi | First Officer | 4.000 jam terbang (2.650 di Boeing 747) |
| 3 | Hiroshi Fukuda | Flight Engineer | 9.800 jam terbang (3.850 di Boeing 747) |
Di sore hari itu, Masami Takahama mengambil posisi sebagai instruktur dan mengendalikan semua komunikasi sama ATC. Beliau jadi instruktur buat First Officer Yutaka Sasagi yang akan promosi jadi Captain. Posisi duduk Yutaka Sasagi di kursi captain dan jadi Pilot In Command (PIC).
Sebagai tambahan, Boeing 747-146 SR termasuk varian klasik yang diawaki 3 orang di kokpit.
Kyu Sakamoto di Antara Penumpang Pesawat
Selain 3 orang kru kabin, ada 521 penumpang dan kru lainnya di dalam pesawat. Mayoritas adalah Warga Negara Jepang yang mau liburan itu. Di antara penumpang itu ada aktor dan penyanyi terkenal Jepang waktu itu, Kyu Sakamoto. Top lewat lagu Sukiyaki dan sempat jadi plesetan di salah satu Film Warkop DKI.
Selain itu tercatat ada 22 warga negara Asing yang ikut dalam penerbangan 123 ini. Berikut daftarnya:
| No | Negara Asal Penumpang | Jumlah |
| 1 | Amerika Serikat | 6 |
| 2 | Hong Kong | 4 |
| 3 | India | 3 |
| 4 | Korea Selatan | 3 |
| 5 | Italia | 2 |
| 6 | Jerman Barat | 2 |
| 7 | Inggris Raya | 1 |
| 8 | Republik Rakyat Tiongkok | 1 |
Kronologis Tragedi JAL 123 : Ekor Pesawat Copot di Udara!
Tepat di jam 06.12 waktu setempat, pesawat Boeing 747-146 SR take off dari Bandara Internasional Haneda di Tokyo. Menuju Bandara Itami di Osaka. Perkiraan waktu tempuh sekitar 50 menit sampe 1 jam. Fase awal ini berlangsung normal layaknya penerbangan pada umumnya. Dalam waktu 12 menit, pesawat terbang normal menuju ketinggian jelajah yang udah ditentuin.
Ledakan di Atas Teluk Sagami (Ekor Copot)
Setelah pesawat mencapai ketinggian jelajah sekitar 30.000 kaki, tiba-tiba terjadi ledakan yang cukup keras di bagian belakang. Ledakan diikuti penurunan tekanan kabin (dekompresi) dan saat itu masker oksigen turun secara otomatis. Ledakan terjadi tepat di atas Teluk Sagami.
Bagian yang meledak ini adalah rear pressure bulkhead atau sekat bagian belakang. Selain merobek itu, juga mengakibatkan ekor pesawat copot. Inilah awal Tragedi JAL 123.
Captain Menyatakan Keadaan Darurat (Squawk 7700)
Ledakan keras disusul dekompresi dirasakan di kabin. Ketiga kru coba cari tau apa yang sebetulnya terjadi. Mengetahui keadaan itu, Captain Masami Takahama langsung menyatakan keadaan darurat (Squawk 7700) kepada Air Traffic Control (ATC) di Tokyo dan minta balik kanan ke Bandara Haneda buat pendaratan darurat.
Pesawat Kehilangan Kendali
Setelah dapat izin dari ATC, pesawat coba balik kanan. Tapi pesawat sama sekali nggak respon. Pesawat nggak bisa dibelokin atau naik-turun, dan kehilangan kendali. Bukannya putar balik yang ada malah tetap jalan lurus ke depan.
Dalam sebuah video rekonstruksi dan berdasarkan rekaman Cockpit Voice Recording (CVR), Flight Engineer HIroshi Fukuda mendeteksi Boeing 747-146 SR kehilangan semua tenaga hidrolik. Kondisi JAL 123 kini dalam kondisi kritis.
ATC Menawarkan Nagoya Tapi Captain Keukeuh di Haneda
Tau pesawat JAL 123 itu bukannya putar balik malah terus lurus, ATC menawarkan opsi lain yaitu mendarat di Bandara Nagoya. Tapi Captain Masami Takahama tetap keukeuh pengen mendarat di Haneda. Alasan dan pertimbangan Captain karena Haneda punya landasan yang luas dan fasilitas kedaruratan lengkap.
Tragedi JAL 123 : Coba Kendalikan Pake Daya Dorong Mesin
Karena kemudi pesawat nggak berfungsi sama sekali, Captain dan First Officer Yutaka Sasagi coba terbangin Boeing 747-146 SR itu pake daya dorong mesin. Pesawat memang bisa belok atau naik sedikit demi sedikit. Tapi di saat yang sama juga bermanuver naik turun kaya roller coaster.
Pesawat memang berhasil belok ke kanan, melewati Gunung Fuji, kemudian belok kanan lagi dan arahnya memang ke Tokyo. Boeing 747-146 SR juga sempat berputar di atas Otsuki yang masih sekitaran Gunung Fuji sebelum akhirnya mengarah ke Timur. Sekilas nampak ke Tokyo tapi apakah berhasil?
Tragedi JAL 123 : Coba Turunkan Roda Tapi Malah Tambah Parah (Oksigen Menipis)

Manuver roller coaster gegara kehilangan bagian ekor yang berisi semua kontrol bikin pesawat susah buat sampe ke ketinggian dimana oksigen tersedia. Apalagi flight attendant lapor ke kokpit bahwa persediaan oksigen di kabin mulai menurun. Itu juga dirasakan kru kokpit yang mulai merasakan gejala hypoksia.
Supaya pesawat bisa ke ketinggian dibawah 15.000 kaki dan stabil di sana, Flight Engineer Hiroshi Fukuda usul supaya roda pesawat diturunkan. Benar berhasil diturunkan sampe ke ketinggian aman dimana terdapat supply oksigen cukup. Pesawat masih bisa melayang dengan hanya ngandalin daya dorong.
Momen Boeing 747-146 SR yang kehilangan ekornya ini ada di bawah 15.000 kaki sempat ketangkap kamera dari darat. Seorang fotografer amatir mengabadikan momen ini. Foto tersebut jadi bagian penting dalam proses selanjutnya.
Apakah mengarah ke Tokyo? Nyatanya justru mendekat ke kawasan pegunungan. Nah, di jalur yang diterbangi itu sebenarnya dekat sama Yokota Air Base, pangkalan militer Amerika Serikat. Pihak pangkalan kemudian coba ngontak Captain Masami Takahama agar bisa mendarat di Yokota. Tapi nggak ada jawaban karena kesibukan di dalam kokpit.
Begitu juga kontak sama ATC di Tokyo sempat putus sebentar. Setelah ganti frekuensi bisa nyambung lagi. ATC udh ngasih prioritas buat JAL 123 mendarat di Haneda dan Yokota buat alternatif.
Jatuh di Gunung Takamagahara
Arah pesawat juga makin nggak karuan. Bukannya menuju Haneda atau Yokota Air Base, tapi malah ke mengarah kawasan pegunungan. Benar aja ketika Captain meminta konfirmasi, ATC menyebut mereka kini ada di sekitar Kumagaya, yang mana itu daerah pegunungan.
Di sana Boeing 747-146 SR itu makin kehilangan kendali. Pesawat sempat mengalami stall karena terus-terusan mengandalkan daya dorong, hingga akhirnya jatuh di Gunung Takamagahara, sebuah kawasan pegunungan terpencil di Prefecture Gunma.
Tragedi JAL 123 : Pertolongan Telat, Cuma 4 yang Selamat
Malapetaka rupanya nggak selesai sampe disitu. Lokasi pesawat memang sempat ditemukan oleh pesawat angkut Amerika Serikat, bahkan sempat pengen memberikan pertolongan. Sayangnya otoritas Jepang nggak kasih izin.
Tim SAR dari Jepang sendiri sempat mencapai lokasi, tapi mutusin buat terjun keesokan harinya karena udah terlalu gelap dan sangat berisiko buat mendarat di situ. Lokasinya sendiri lumayan sulit lewat jalan darat.
Akhirnya Tim SAR beneran datang di tanggal 13 Agustus 1985. Namun itu udah telat banget. Mereka cuma nemuin 4 orang yang selamat, dimana semuanya adalah perempuan. Satu anak kecil, satu ibu-ibu, dua lainnya dewasa muda (salah satunya Flight Attendant Yumi Ochiai yang lagi cuti dan menumpang pesawat nahas itu).

Dalam proses pencarian korban, ada satu momen yang lumayan mengharukan. Tim penyelamat menemukan beberapa potongan kertas dari saku pakaian penumpang yang nggak selamat. Di situ tertulis semacam ucapan perpisahan kepada sanak keluarga setelah mengetahui pesawat udah dalam kondisi nggak terkendali. Seolah tau bahwa dirinya mungkin nggak akan selamat.
Maintenance Buruk Jadi Sebab Tragedi JAL 123
Pasca Tragedi JAL 123 di Prefecture Gunma, Biro Keselamatan Transportasi Jepang langsung melakukan penyelidikan yang dibantu oleh Biro Keselamatan Transportasi Amerika Serikat (NTSB).
Hasilnya ditemukan bahwa ada maintenance yang nggak semestinya di sisi ekor pesawat. Tepatnya rear pressure bulkhead atau sekat bagian belakang. Baut yang ada disitu harusnya ada dua. Tapi yang terjadi malah nggak sesuai.
Akibat dari maintenance buruk itu, kemampuan sekat itu ketika menahan beban tekanan selama penerbangan jadi berkurang. Sehingga logam jadi lemah dan terjadilah malapetaka 12 Agustus 1985 itu.
Ledakan merobek rear pressure bulkhead dan mencopot ekor pesawat dimana semua kendali ada di sana. Akibatnya pesawat nggak bisa dikendalikan setelah kehilangan semua tenaga hidrolik. Alhasil kru kokpit cuma ngandalin daya dorong, gagal mencapai Haneda, dan jatuh di pegunungan.
Momen pesawat terbang tanpa ekor di bawah 15.000 kaki sempat diabadikan seorang fotografer amatir. Jepretannya jadi bagian penting dalam penyelidikan. Nggak lama kemudian, bagian ekor itu ditemukan di Teluk Sagami.
Pernah Mengalami Insiden Sebelumnya
Penyelidikan lebih lanjut mendapati bahwa pesawat benomor registrasi JA8119 itu pernah mengalami insiden pada 2 Juni 1978 di Bandara Itami Osaka. Waktu itu pesawat mendarat dalam kondisi hidung mengangkat terlalu tinggi yang mengakibatkan terjadi tailstrike atau gesekan pada bagian ekor dengan aspal beton landasan.
Gesekan yang bikin ada retakan di sekat bagian belakang (rear pressure bulkhead). Japan Airlines (JAL) sempat panggil teknisi dari Boeing buat betulin kerusakan ini. Namun perbaikannya ternyata nggak sesuai standard. Sehingga mengakibatkan sekat itu terus melemah seiring siklus terbang JA 8119 yang tinggi di rute domestik padat.
Selain tailstrike di Itami, tanggal 19 Agustus 1982, ketika Boeing 747-146 SR ini dilaporkan juga pernah mengalami insiden dimana terjadi gangguan mesin nomor 4 waktu landing di landasan 18L Bandara Chitose Sapporo waktu menerbangi rute Tokyo-Sapporo. Sehingga captain memutuskan buat go-around dan ulangi lagi pendaratan di Landasan 36R.
Gangguan mesin di Bandara Chitose ini terjadi kurang dari 3 tahun sebelum mengalami kecelakaan fatal di Gunung Takamagahara, 12 Agustus 1985. Sekaligus menjadikannya sebagai penerbangan terakhir JA 8119.
Kecelakaan Pesawat Terbesar
Tragedi JAL 123 kalo diliat dari jumlah korbannya yang mencapai 520 penumpang dan kru menjadikannya sebagai kecelakaan tunggal dengan korban terbesar di dunia. Ini cuma kalah dari Tabrakan Dua Boeing 747-200 Pan Am dan KLM di Bandara Tenerife tangal 27 Maret 1977 yang menewaskan 586 orang dan menjadikannya Crash of The Century.
Sebelum Tragedi JAL 123, pesawat jenis Boeing 747 memang pernah mengalami kecelakaan tunggal lainnya yakni Tragedi Air India 182 di Samudera Atlantik ketika lagi dalam penerbangan dari Toronto Kanada menuju London.
Penyebab kecelakaan ini adalah serangan teroris yang menaruh bom di dalam bagasi. Bom itu meledak di atas Samudera Atlantik dekat Irlandia. Menewaskan 329 penumpang dan kru. Namun itu belum seberapa dibanding Tragedi JAL 123 yang makan korban sampe 520 orang.
Dampak Tragedi JAL 123
Selain jadi salah satu yang terbesar dalam sejarah, ada dampak lain dari Tragedi JAL 123 yang menewaskan 520 orang ini.
- Jatuhnya reputasi Japan Airlines. Bagi airline sendiri dampaknya sangat terasa. Pasca kecelakaan fatal di Gunma itu penumpang domestik mengalami penurunan sampe 25%. Rute internasional pun nggak lebih baik. Banyak yang lebih memilih All Nippon Airways (ANA), kompetitor langsung dari Japan Airlines (ANA). Tragedi ini jelas menjatuhkan reputasi Japan Airlines. Nomor penerbangan 123 sendiri akhirnya dipensiunkan.
- Resign dan Harakiri. Pasca Tragedi JAL 123, Presiden maskapai penerbangan nasional Jepang itu, Yasumoko Takagi, mengundurkan diri (resign). Dua pegawai maintenance yakni Hiro Tominaga (Manager) dan Susumu Tajima (teknisi) melakukan harakiri atau bunuh diri. Bahkan Tajima sempat meninggalkan surat yang isinya soal tekanan kerja.
- Referensi Film Indonesia, Tukar Takdir. Di negara kita, Tragedi JAL 123 dijadiin referensi film berjudul Tukar Takdir yang release Oktober 2025. Film itu menceritakan tentang penerbangan Jakarta Airways (JA) 79 yang jatuh di Gunung Halau-Halau Kalimantan Selatan. Menewaskan 132 penumpang dan kru, menyisakan hanya satu orang selamat yaitu Rawa (diperankan Nicholas Saputra). Kalo dilihat kronologinya mirip-mirip sama JAL 123 yang jatuh di Gunma. Terjadi ledakan di bagian belakang, pesawat nggak bisa dikendalikan, dan perbandingan korban meninggal dan selamat nggak jauh beda.
Kisah Kepahlawanan Captain Masami Takahama
Ternyata pahlawan dalam Tragedi JAL 123 adalah sosok Captain Masami Takahama itu sendiri. Cukup alasan memang menjadikan Pilot Veteran berpengalaman ini sebagai pahlawan. Meski termasuk dalam 520 korban meninggal dunia. Berikut adalah alasannya:
- Tetap Coba ke Tokyo daripada Nagoya. Pesawat mengalami kesulitan dan nggak bisa dikendalikan saat hendak putar balik ke Tokyo. Hal ini kedeteksi sama ATC dan mereka tawarkan solusi buat mendarat di Bandara Nagoya. Namun Captain Masami Takahama tetap pada pendiriannya mendarat di Tokyo. Nyatanya ini memang bukan tanpa alasan. Landasar Nagoya terlalu kecil dan harus lebih dulu melewati kawasan pemukiman. Tentu risikonya jauh lebih besar daripada mendarat di Haneda yang posisinya tepat di dekat Tokyo Bay. Kalopun gagal, pesawat masih bisa mendarat di air (ditching) dan meminimalisir korban.
- Bertahan Selama Mungkin di Udara. Dengan kondisi pesawat yang udah kehilangan ekor yang otomatis juga tenaga hidrolik, proses balik kanan ke Haneda nggak bisa mulus. Cuma ngandalin daya dorong mesin, pesawat sempat belok kanan melewati Gunung Fuji dan nampak menuju Tokyo. Namun yang terjadi kemudian pesawat semakin belok ke arah pegunungan, kehilangan kendali, dan akhirnya jatuh di Gunung Takamagahara. Meski begitu, kita perlu apresiasi di sini, Captain berusaha bertahan selama mungkin karena tau pesawat dalam kondisi hilang kendali dan peluang balik ke Tokyo sangat kecil. Sekali lagi risiko korban lebih besar berhasil diminimalisir.
Jadi intinya, Captain Masami Takahama ingin agar korban bisa seminimal mungkin bila pesawatnya nggak berhasil nyampe ke Haneda. Itu berhasil diwujudkan, karena pesawat mengarah ke kawasan pegunungan terpencil di Prefecture Gunma dan jatuh di sana.
Sedikit Cerita Tentang Kyu Sakamoto (Awalnya Mau Naik ANA)
Keberadaan Kyu Sakamoto dalam penerbangan 123 ini meninggalkan cerita tersendiri. Aktor dan penyanyi terkenal Jepang di masanya tersebut termasuk dalam 520 penumpang yang nggak selamat. Salah satu lagu yang paling diingat tentu saja “Sukiyaki”.
Lagu itu sempat dijadiin parodi di film Warkop DKI judulnya “Pintar Pintar Bodoh” dan versi remake-nya Warkop DKI Reborn, Jangkrik Boss Part 1. Tapi aslinya nggak sesederhana itu. Bagian awal lagu yang bunyinya “Ue o Muite Arukou” adalah bentuk kesedihan dan rasa frustrasi.
Lagu Sukiyaki diciptakan oleh Hachidai Nakamura dan Rokusuke Ei. Dalam kondisi keduanya balik setelah kegagalan dalam protes atas intervensi militer Amerika Serikat di Jepang Pasca Perang Dunia ke-2. Termasuk perjanjian kerjasama pertahanan Amerika Serikat dan Jepang yang dianggap cuma kelanjutan dari intervensi tersebut.
Balik ke Kyu Sakamoto, aktor yang pernah kerja bareng sama Hayao Miyazaki di film anime klasik Gulliver’s Travels Beyond the Moon ini memang suka traveling naik pesawat. Kyu Sakamoto adalah pelanggan rutin maskapai All Nippon Airways (ANA) untuk jalur domestik.
Tanggal 12 Agustus 1985 itu, Kyu Sakamoto memang rencana mau terbang ke Osaka. Awalnya mau naik ANA seperti biasa. Tapi semua penerbangan domestik ANA tujuan Osaka di tanggal itu udah penuh dan mesti terbang di hari itu juga. Maka jadilah Kyu Sakamoto menumpang JAL 123 yang nahas.
Kesimpulan
Tragedi JAL 123 terjadi pada 12 Agustus 1985 atau 41 tahun yang lalu. Ketika sebuah pesawat Boeing 747-146 SR yang lagi menerbangi rute Tokyo-Osaka ekornya terlepas di Teluk Sagami dan mengakibatkan pesawat hilang kendali. Hingga akhirnya jatuh di Gunung Takamagahara dekat Gunma setelah beberapa saat berputar di udara.
Akibat dari kecelakaan ini, 520 penumpang tewas, termasuk Captain Masami Takahama dan seorang artis terkenal dimasanya yakni Kyu Sakamoto. Dari jumlah korban itu, kecelakaan yang diakibatkan maintenance buruk ini masuk salah satu yang terbesar di dunia.
Namun dibalik tragedi, kita tetap harus kasih kredit dan respect sama Captain Masami Takahama. Berkat keputusannya yang ogah mendarat di Nagoya dan memutuskan tetap coba balik kanan ke Tokyo ternyata bisa meminimalisir korban.
Bisa jadi karena tau dalam kondisi nggak ada tenaga hidrolik, pesawat bisa juga nggak akan nyampe di Tokyo. Bener aja yang ada malah mengarah ke kawasan pegunungan terpencil dan jatuh di sana. Karena itu cukup alasan buat menjadikan Captain Masami Takahama sebagai sosok pahlawan.
Selaik kisah kepahlawanan Captain Masami Takahama, keberadaan Kyu Sakamoto dalam penerbangan ini juga meninggalkan cerita tersendiri. Awalnya aktor dan penyanyi terkenal Jepang itu mau terbang ke Osaka naik ANA. Tapi karena udah penuh semua dan harus berangkat, jadilah Kyu Sakamoto ikut JAL 123.
Referensi
- 6 Foto Ini Diambil Sebelum Sebuah Tragedi Mengerikan Terjadi Kepada Mereka. Tribunsolo. https://solo.tribunnews.com/2016/06/30/6-foto-ini-diambil-sebelum-sebuah-tragedi-mengerikan-terjadi-kepada-mereka?page=2.
- 8 Things You Didn’t Know About Kyu Sakamoto. Tokyo Weekender (TW). https://www.tokyoweekender.com/entertainment/music/8-things-you-didnt-know-about-kyu-sakamoto/
- 12 Agustus Dalam Sejarah : Jatuhnya Japan Airlines 123 Pada 1985, 520 Orang Meninggal. Kompas.Com. https://www.kompas.com/global/read/2021/08/12/114544970/12-agustus-dalam-sejarah-jatuhnya-japan-airlines-123-pada-1985-520-orang?page=all
- Accident Boeing 747SR-146 JA 8119, Monday. Aviation Safety Network. https://aviation-safety.net/asndb/327151
- August 12, 1985 – Grief Shrouds Mount Osutaka – Union Carbide Promised – Hostages At A Paris Mosque. PastDaily. https://pastdaily.com/2019/08/12/august-12-1985-grief-shrouds-mount-osutaka-union-carbide-promised-hostages-at-a-paris-mosque/
- Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang. Kabar Penumpang. https://www.kabarpenumpang.com/hanya-empat-penumpang-selamat-tragedi-jal-123-kecelakaan-udara-terburuk-di-jepang/
- Japan Airlines Flight 123. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Japan_Airlines_Flight_123
- Rekaman Kokpit Saat-Saat Terakhir Tragedi JAL 123 Ini Bikin Merinding. FlightZona.Com. https://www.flightzona.com/2016/01/21/rekaman-kokpit-saat-saat-terakhir-tragedi-jal-123-ini-bikin-merinding/
FAQ
Nah mungkin dari kamu ada pertanyaan seputar Tragedi JAL 123. Berikut pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan kejadian tersebut:
Teluk Sagami adalah perairan di sebelah selatan Prefectur Kanagawa dan masih masuk wilayah Kanto. Jarak dari Tokyo ke sini sekitar 40 km arah barat daya. Sebelah selatan ada Pulau Izu Oshima yang sering jadi patokan buat jalur penerbangan. Dimana kalo kita denger audio dari kokpit, kru sering menyebut “Radar Vector to Oshima”. Memang iya ini adalah jalur penerbangan umum.
Nggak lama setelah ledakan terjadi, Captain Masami Takahama langsung nyatakan keadaan darurat. Lalu meminta ke Tokyo Area Control untuk balik ke Haneda dan mencoba belok ke kanan. Namun usaha itu gagal karena pesawat kehilangan kontrol akibat bagian ekor yang copot sebelumnya. Pesawat terus bergerak lurus sampe akhirnya sejajar sama Gunung Fuji dan disinilah ATC menyarankan agar pendaratan dialihkan ke Nagoya. Jadi posisi JAL 123 sama Gunung Fuji itu udah sejajar ketika diarahin ke Nagoya.
Pada saat kejadian, Bandara Nagoya masih di lokasi lama yang awalnya bernama Komaki. Bandara lama ini panjang landasannya 2.740 meter dan nggak cukup buat pendaratan pesawat sebesar Boeing 747-146SR. Belum lagi posisinya ada di tengah kawasan bisnis dan pemukiman penduduk. Makanya Captain menolak saran itu dan memilih terus coba mendarat di Haneda. Alasan lainnya bisa jadi buat meminimalisir risiko lebih besar.
Posisi Bandara Nagoya Lama atau Nagoya Airfield:
Saat ini Nagoya Airfield dipake buat pangkalan militer Japanese Self Defense Forces atau Pasukan Beladiri Jepang. Satu-satunya penerbangan berjadwal cuma dilayani J-Air.
JAL 123 sempat dikontak sama Pangkalan Militer Amerika Serikat di Yokota (Yokota Air Base) dan itu terdengar di kokpit. Tapi kru nggak segera meresponnya karena waktu itu dalam kondisi yang sangat repot dan penuh tekanan. Masih tetap mempertahankan pesawat selama mungkin walaupun udah dalam kondisi sangat kritis.
Ada di ketinggian kurang dari 15.000 kaki dan kehilangan kontrol. Selain itu kru masih tetap fokus kontak sama ATC Tokyo dan berharap bisa mendarat di Haneda. Makanya panggilan dari Yokota nggak direspon. Walaupun pada akhirnya pihak Tokyo mengizinkan JAL 123 mendarat di Yokota bila dibutuhkan.
Betul ada pesawat angkut Amerika Serikat (USAF) yang lagi terbang di atas lokasi kecelakaan. Tapi untuk bisa turun dan kasih pertolongan harus dapat izin dulu dari otoritas Jepang. Sayangnya mereka nggak dapat izin karena pihak Jepang sendiri yang akan kasih pertolongan.
Tim SAR Jepang udah sempat terbang di atas lokasi tapi akhirnya nggak turun karena udah gelap dan sangat berisiko. Mereka nggak bisa disalahin karena prosedur standard dalam Tim SAR yang tetap harus mempertimbangkan keselamatan diri juga.
Konten Asli
Sebelumnya konten dengan tema JAL 123 udah pernah ada dan release di manglayang.id dan sempat dipindah ke halaman manglayangtour.web.id. Namun sekarang dipindah dan direvisi ulang di halaman ini karena manglayangtour.web.id mau difokusin buat Jawa Barat.
Buat kamu yang penasaran sama tulisan aslinya, bisa dibaca di sini. Kami udah release ulang dalam bentuk e-book:
Untuk lebih jelasnya langsung aja klik di Sini : JAL 123 dan Kisah Kepahlawanan Masami Takahama.

