Kaldera Tengger adalah sebuah cekungan luas yang didalamnya terdapat Lautan Pasir yang luas, dan sejumlah gunung termasuk Bromo. Namun dibalik Pesona dan daya tariknya itu ada jejak Supervolcano yang meletus dahsyat.
Pendahuluan
Sebagian dari kamu pastinya udah pernah berwisata ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS), khususnya Kawasan Wisata Alam Gunung Bromo. Dimana kamu rela bangun tengah malam dan menembus cuaca dingin hanya untuk sebuah pemandangan alam yang sangat cantik.
Sebuah cekungan dimana ada Gunung Bromo, Batok, dan Widodaren di dalamnya. Bahkan di belakang mangkok besar itu nampak Gunung Semeru yang sedang memuntahkan abu vulkanik nya dari Kawah Jonggring Saloko.
Setelah puas menyaksikan keindahan sunrise itu, aktivitas selanjutnya ialah jalan-jalan di hamparan lautan pasir alami yang sangat luas. Layaknya sensasi berjalan di gurun pasir. Aslinya mah mana ada gurun pasir di negara tropis ya? Tapi di sini memang agak lain.
Itulah gambaran singkat Taman Wisata Alam Gunung Bromo. Sebuah destinasi wisata alam berkelas Internasional. Nah, dibalik keberadaan Gunung Bromo, Batok, hingga Widodaren, beserta hamparan lautan pasir di dalam mangkok besar itu, tersimpan sebuah jejak letusan dahsyat dari Supervolcano.
Wah ceritanya udah mirip kaya Danau Toba aja nih ya? Memang benar, kawasan itu dulunya adalah Supervolcano. Suatu hari, gunung besar itu meletus dengan daya letusan yang nggak bisa disamain sama letusan gunung berapi pada umumnya.
Letusan Supervolcano itu memuntahkan seluruh material vulkaniknya. Sampe meruntuhkan puncak gunung ke dalam kawah, hingga membentuk cekungan besar yang disebut Kaldera. Pertanyaannya sekarang, kaya gimana sih Supervolcano yang jadi awal mula Gunung Bromo itu?
Gunung Tengger Purba, Tingginya Melebihi Semeru
Supervolvcano yang dimaksud adalah Gunung Tengger Purba. Sebuah gunung purba raksasa dengan ketinggian 4000 mdpl. Melebihi Semeru saat ini (3.676 mdpl). Gunung ini asalnya merupakan gunung yang tenang tanpa ada aktivitas di dalamnya. Seolah menjadi penjaga Jawa Timur di masa lalu.

Namun nggak ada yang menyangka, gunung yang semula tenang ini kemudian menunjukkan aktivitas vulkaniknya.
Gunung Tengger Purba memang nggak begitu aja meletus dengan dahsyat. Tapi lebih dulu menunjukkan tanda-tanda yang dimulai dari letusan-letusan yang skalanya lebih kecil. Nah, disini mesti dipahami sedikit ya, skala kecil untuk konteks Supervolcanno kaya Gunung Tengger Purba ini jelas beda sama gunung berapi biasa.
Letupan-letupan yang bikin kondisi puncak gunung jadi nggak stabil. Sampe pada sebuah letusan piroklastik yang memuntahkan semua isi perutnya sampe kosong. Akibatnya puncak makin nggak stabil dan ambruk ke dalam kawah Gunung Tengger Purba.
Letusan Piroklastik Membentuk Kaldera Tengger
Puncak letusan Supervolcano yang terjadi sekitar 150.000 tahun lalu itu membuat pucuknya hancur dan tenggelam. Kemudian membentuk sebuah cekungan besar yang kemudian kita kenal sebagai Kaldera Tengger.
Kaldera adalah sebuah cekungan raksasa yang terbentuk akibat letusan sangat dahsyat, atau disebut juga letusan Piroklastik. Letusan ini mengosongkan dapur magma sehingga puncak gunung roboh ke dalam.
Jadi letusannya mengeluarkan semua isi magma sehingga tanah dan puncak gunung kehilangan pijakan di bawah. Terus puncaknya roboh dan membentuk cekungan yang besar. Biasanya cekungan ini berubah jadi danau atau membentuk vegetasi baru.
Beda sama kawah yang memiliki lebar 800 meter, Kaldera ini memiliki lebar sampai 10 kilometer. Nah untuk case letusan Supervolcano Tengger Purba, di dalam cekungan itu terbentuk hamparan lautan pasir vulkanik yang bisa kita rasakan sekarang saat berkunjung ke sana.
Kaldera Tengger, Terluas di Indonesia
Balik lagi ke sini, Kaldera Tengger memiliki luas 6.290 hektare dan keliling 45 kilometer. Menjadikannya kaldera terluas di Indonesia. Berikut adalah detail kaldera Tengger yang terbentuk dari Supervolcano Tengger Purba:
| Luas Area | Diameter | Keliling | Tinggi Dinding Kaldera |
| 6.290 hektare | 8.000 meter (Utara-Selatan) | 46 Kilometer | 120 – 700 meter (Dari Dasar Lautan Pasir) |
| 10.000 meter (Barat-Timur) |
Sementara itu untuk daftar kaldera terluas di Indonesia, dikutip dari Info Pendaki dalam Explore Jeep Wisata Gunung Bromo, adalah sebagai berikut:
| No | Nama Kaldera | Keliling (km) |
| 1 | Kaldera Tengger | 46 |
| 2 | Kaldera Tambora | 37 |
| 3 | Kaldera Rinjani | 22 |
| 4 | Kaldera Batur | 22 |
| 5 | Kaldera Baluran | 13 |
| 6 | Kaldera Sago | 10 |
| 7 | Kaldera Raung | 6,5 |
| 8 | Kaldera Bismo | 6 |
Terbentuknya Gunung Baru di Kaldera Tengger
Ternyata semua nggak berhenti dengan terbentuknya Lautan Pasir di dalam kaldera. Magma di dalam perut bumi rupanya masih mencari jalan keluar baru. Dari situ terbentuklah deretan gunung baru di dalam Kaldera Tengger tersebut. Deretan gunung baru itu meliputi:
- Gunung Bromo (2.392 mdpl)
- Gunung Batok (2.440 mdpl)
- Gunung Kursi (2.581 mdpl)
- Gunung Wetangan (2.601 mdpl)
- Gunung Widodaren (2.614 mdpl)
Jejeran gunung di dalam kaldera seluas 6.290 hektare ini juga membentuk pola utara-selatan dan barat laut-timur laut. Dimana Gunung Bromo ada di pola barat laut-timur laut (menyilang).
Gunung Bromo Bagian dari Kaldera Tengger

Tentu yang paling terkenal dari Kaldera Tengger adalah Gunung Bromo. Kalo dilihat dari ketinggiannya, gunung populer ini justru yang paling kecil di antara jejeran gunung di Kaldera Tengger, yaitu 2.392 mdpl. Nggak hanya itu, Gunung Bromo juga jadi satu-satunya yang paling aktif dan masih sampe sekarang.
Kawah Gunung Bromo memiliki diameter 800 meter (utara-selatan) dan 500 meter (timur-barat). Nah kalo diliat diameter apalagi ketinggiannya, Gunung ini nggak ada apa-apanya dibanding induk yang melahirkannya, yaitu si Supervolcano Tengger Purba.
Gunung Bromo Adalah Anak Gunung Tengger Purba
Ada yang beranggapan bahwa Gunung Bromo adalah sisa atau bagian kecil dari Gunung Tengger Purba. Anggapan itu nggak sepenuhnya tepat. Gunung ini terbentuk bersama keempat gunung lainnya di Kaldera Tengger pasca letusan piroklastik. Jadi sebenarnya Bromo ini lebih tepat disebut Anak Gunung Tengger Purba. Posisinya sama kaya Gunung Anak Krakatau.
Satu-Satunya yang Aktif Sampe Sekarang
Dibanding empat anak Supervolcano Tengger Purba yang lain, Gunung Bromo ini jadi satu-satunya yang aktif. Sebagaimana gunung berapi aktif pada umumnya, Bromo tercatat beberapa kali mengalami letusan sejak abad ke-19.
Paling besar terjadi tahun 1975 dan terakhir kali erupsi 19 Juli 2019. Namun karakteristik letusan ini beda dari yang lainnya. Dimana letusannya lebih banyak berupa abu vulkanik dan muntahan pasir.
Gunung Semeru Nggak Termasuk
Nggak sedikit yang tanya apakah Gunung Semeru masuk dalam Kaldera Tengger. Jawabannya jelas nggak termasuk. Walaupun di sunrise view keliatan dengan jelas dari balik Gunung Widodaren, lagi muntahin abu vulkanik dari Kawah Jonggring Saloko.
Gunung Semeru memang merupakan bagian kompleks pegunungan Tengger-Semeru yang terdiri dari jejeran kaldera dan gunung. Membentang 25 km dari utara ke selatan. Mulai dari Kaldera Tengger, Kaldera Jambangan, Kaldera Ayek Ayek, Gunung Kepolo, dan Gunung Semeru. Jadi sekali lagi bukan bagian Kaldera Tengger. Justru malah berdiri sejajar
Lautan Pasir Kaldera Tengger
Selain Gunung Bromo, bagian yang nggak boleh dilewatkan dari Kaldera Tengger adalah Lautan Pasir. Sebuah hamparan pasir yang sangat luas. Jadi di dalam cekungan itu isinya pasir semua. Makanya disebut Lautan Pasir. Tempat yang nggak boleh dilewatin pada saat berwisata ke sini.

Lautan Pasir Terbentuk Lebih Dulu
Sebenarnya, kalo diliat dari kronologi pembentukan Kaldera Tengger sebagai hasil dari letusan Supervolcano Tengger Purba, Lautan Pasir ini yang pertama kali terbentuk. Udah itu barulah muncul kelima gunung yang udah dibahas sebelumnya karena ternyata magma dalam perut bumi masih mencari jalan keluar baru pasca letusan supervolcano itu.
Tentang Istilah Pasir Berbisik
Menarik nih, ada lagi istilah Pasir Berbisik. Sebenarnya Pasir Berbisik adalah Lautan Pasir itu sendiri. Cuma kadang orang nyebut begitu mengacu pada pasir yang kebawa sama hembusan angin. Apalagi dalam jumlah yang lumayan.
Pasir Berbisik adalah judul film yang ngambil setting di kawasan wisata alam Gunung Bromo. Pas di lautan pasirnya. Film itu juga secara nggak langsung memang mempromosikan wisata dunia tersebut. Meski di tahun yang sama, Gunung Bromo nya sendiri lagi dalam kondisi batuk-batuk.
Kesimpulan
Kaldera Tengger yang didalamnya ada Gunung Bromo dan Lautan Pasir yang eksotis itu ternyata ada jejak Supervolcano di dalamnya, yakni Gunung Tengger Purba. Sebuah letusan dahsyat berhasil meruntuhkan puncaknya ke dalam hingga membentuk cekungan seluas 6.290 hektare.
Di dalam cekungan besar itu terbentuk lautan pasir vulkanik yang sekarang bisa kita nikmati ketika berkunjung ke sana. Pasca letusan piroklastik Tengger Purba, magma dalam perut bumi masih mencari jalan keluar. Sehingga terbentuklah 5 buah gunung baru.
Dari kelima gunung itu, satu-satunya yang sangat aktif sampe sekarang adalah Gunung Bromo. Meski secara ketinggian lebih kecil dari empat anak Gunung Tengger Purba yang lain.
Gunung Bromo pernah mengalami letusan dahsyat tahun 1975, erupsi di 2001 hampir bersamaan proses syuting Film Pasir Berbisik, dan terakhir pada tanggal 16 Juli 2019.
Foto Asli
Seperti biasa kami ingetin ke kamu ya bahwa gambar di atas udah dimodifikasi pake efek AI. Bahkan Supervolcano Gunung Tengger Purba-nya adalah ilustrasi AI karena nggak ada foto aslinya.
Nah buat kamu yang pengen liat foto asli Kaldera Tengger termasuk Bromo dan Lautan Pasir, berikut adalah foto aslinya:
Untuk gambar lebih jelasnya langsung aja klik link berikut: Foto Asli Jejak Supervolcano.

